MEMULAI SEBUAH PEKERJAAN DARI TUHAN
Minggu, 13 September 2026
Pembacaan Alkitab: NEHEMIA 2:11-20
Oleh Pdt. Dr. NELSON KAPITARAU,S.Th,MM.
PENDAHULUAN
Bapak/Ibu Jemaat Tuhan yang dikasihi dalam Yesus Kristus, pada Minggu yang lalu kita telah belajar dari Nehemia 2:1-10 bahwa sebuah pekerjaan yang berasal dari Tuhan di mulai dari doa, keberanian, dan kesediaan melangkah dalam panggilan Tuhan. Nehemia berdoa, Tuhan membuka jalan melalui Raja Artahsasta, dan akhirnya Nehemia berangkat menuju Yerusalem.
Pada Minggu ini, kita melanjutkan perjalanan Nehemia dalam Nehemia 2:11-20. Setelah sampai di Yerusalem, Nehemia tidak langsung bertindak. Ia terlebih dahulu melihat, mengamati dan memahami keadaan yang sebenarnya. Setelah itu ia mengajak umat berkata, “Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem.”
Dengan demikian, firman Tuhan hari ini mengajarkan kepada kita bahwa pekerjaan yang berasal dari Tuhan tidak cukup hanya dimulai dengan doa dan keberanian untuk melangkah, tetapi harus dilanjutkan dengan melihat keadaan secara jujur, membangun kebersamaan, dan berani mulai bekerja. Tema kita hari ini: “Memulai Sebuah Pekerjaan dari Tuhan.”
PENJELASAN AYAT PERAYAT
- Ayat 11 : Nehemia tiba di Yerusalem “Sesudah aku tiba di Yerusalem, aku tinggal di sana tiga hari.” Nehemia akhirnya tiba di Yerusalem setelah mendapat izin dari Raja Artahsasta. Namun menarik bahwa Nehemia tidak langsung mengumpulkan rakyat atau memulai pembangunan. Ia tinggal selama tiga hari. Tiga hari ini menunjukkan adanya masa berhenti sejenak, menyesuaikan diri, mengamati dan mempersiapkan langkah berikutnya. Nehemia memahami bahwa pekerjaan besar tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa.
- Ayat 12 : Nehemia melakukan pengamatan secara pribadi “Aku bangun pada malam hari bersama-sama beberapa orang saja…” Nehemia keluar pada malam hari bersama beberapa orang. Ia sengaja tidak memberitahukan kepada siapa pun rencana yang ada dalam hatinya. Mengapa? Karena Nehemia belum ingin membicarakan sesuatu yang belum ia pahami secara menyeluruh. Ia ingin memperoleh informasi langsung dari lapangan. Ini memperlihatkan karakter seorang pemimpin yang tidak hanya mengandalkan laporan. Prinsip kepemimpinan Lihat sendiri sebelum menyimpulkan. Nehemia tidak mengatakan: “Saya sudah tahu keadaan Yerusalem.” Tetapi ia datang dan melihat sendiri.
- Ayat 13: Nehemia melihat kehancuran Yerusalem “Aku keluar melalui Pintu Gerbang Lebak… melihat tembok-tembok Yerusalem yang telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya yang habis dimakan api.” Inilah realitas yang Nehemia hadapi: Tembok terbongkar. Pintu gerbang terbakar. Kota dalam keadaan rusak. Tembok pada zaman itu bukan hanya berfungsi sebagai bangunan fisik. Tembok merupakan simbol: keamanan; perlindungan; identitas kota; kehormatan masyarakat; stabilitas kehidupan Karena itu kehancuran tembok menunjukkan bahwa kehancuran Yerusalem bukan sekadar kehancuran bangunan, tetapi kehancuran kehidupan sosial umat.
- Ayat 14 : Jalan yang sulit “Lalu aku bergerak terus ke Pintu Gerbang Mata Air dan ke Kolam Raja, tetapi tidak ada tempat bagi binatang yang kutunggangi untuk lewat.” Nehemia menemukan bahwa kerusakan itu begitu parah sehingga bahkan binatang yang ditungganginya tidak dapat melewati bagian tertentu. Ini menggambarkan betapa beratnya kondisi Yerusalem. Namun Nehemia tidak berhenti. Ia terus melakukan pemeriksaan.
- Ayat 15 : Nehemia terus melakukan evaluasi “Aku naik ke atas melalui lembah pada malam hari, sambil mengamati tembok-tembok itu…” Nehemia terus mengelilingi Yerusalem dan mengamati tembok. Ia melakukan semacam audit lapangan. Ia ingin mengetahui: bagian mana yang rusak; seberapa besar kerusakannya; apa yang diperlukan; bagaimana pekerjaan dapat dilakukan. Prinsip kepemimpinan Visi tanpa data dapat menjadi angan-angan. Nehemia memiliki visi dari Tuhan, tetapi ia tetap membutuhkan informasi yang benar untuk melaksanakan visi tersebut.
- Ayat 16 : Nehemia menjaga waktu dan strategi “Para penguasa tidak tahu ke mana aku pergi atau apa yang aku lakukan…” Nehemia belum mengumumkan rencananya. Bukan berarti Nehemia tidak terbuka. Tetapi ia memahami bahwa setiap rencana membutuhkan waktu yang tepat untuk disampaikan. Ada perbedaan antara: diam karena takut dan diam karena sedang mempersiapkan strategi. Nehemia melakukan yang kedua.
- Ayat 17: Saatnya mengajak umat bangkit Ini adalah ayat kunci. “Kamu lihat kemalangan yang kita alami… Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela.” Setelah melakukan pengamatan, Nehemia akhirnya berbicara kepada umat. Perhatikan tiga hal: Pertama: Nehemia menyebut kenyataan “Kamu lihat kemalangan yang kita alami.” Nehemia tidak menyembunyikan masalah. Kedua: Nehemia membangun rasa kebersamaan Ia berkata: “kita alami” bukan “kalian alami”. Kemudian: “Mari, kita bangun kembali.” Ini adalah bahasa kesehatian dan kebersamaan. Ketiga: Nehemia memberikan tujuan “supaya kita tidak lagi dicela.” Pembangunan mempunyai tujuan yang lebih besar daripada sekadar memperbaiki tembok. Tujuannya adalah memulihkan kehidupan dan martabat umat Tuhan.
- Ayat 18: Kesaksian tentang pertolongan Tuhan “Ketika kuceritakan kepada mereka, betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku…” Nehemia menjelaskan bagaimana Tuhan telah bekerja: Tuhan memberikan beban kepadanya; Tuhan membuka jalan melalui raja; Tuhan memberikan izin; Tuhan menyertai perjalanannya; Tuhan membawa dia sampai ke Yerusalem. Karena itu umat menjawab: “Kami siap untuk membangun!” Urutan yang sangat penting .Pertolongan Tuhan → Kesaksian → Iman umat → Tindakan bersama. Nehemia tidak mengajak umat hanya dengan kemampuan retorikanya. Ia memberikan kesaksian tentang karya Tuhan.
- Ayat 19 : Munculnya oposisi “Ketika Sanbalat… Tobia… dan Gesyem… mendengar hal itu, mereka mengolok-olok kami dan menghina kami…” Begitu umat mulai bergerak, muncul perlawanan. Ada tiga tokoh utama: Sanbalat Tobia,Gesyem Mereka mempertanyakan: “Apa yang kamu lakukan itu?” Mereka bahkan menuduh Nehemia hendak memberontak terhadap raja. Ini adalah bentuk intimidasi dan delegitimasi terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan. Prinsip penting Jangan menganggap bahwa ketika kita melakukan kehendak Tuhan, semua orang pasti mendukung. Kadang-kadang: panggilan Tuhan → tindakan iman → muncul oposisi. Oposisi bukan selalu tanda bahwa kita salah.
- Ayat 20 : Ketegasan iman Nehemia.Ini merupakan klimaks bagian ini. “Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil.” Nehemia tidak menjawab dengan kemarahan. Ia tidak berkata: “Saya mempunyai kuasa.” Ia tidak berkata: “Raja mendukung saya.” Ia berkata: “Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil.” Inilah pusat teologi kepemimpinan Nehemia. Nehemia memiliki: visi,
strategi, jaringan, izin raja, dukungan umat, tetapi ia tetap mengakui bahwa sumber keberhasilan adalah Allah. Kemudian Nehemia berkata: “Kami, hamba-hamba-Nya, akan mulai membangun.” Perhatikan keseimbangannya: Allah yang membuat berhasil – manusia yang harus mulai membangun. Ini sangat penting. Nehemia tidak berpikir: “Kalau Tuhan bekerja, kita tidak perlu melakukan apa-apa.” Sebaliknya: Karena Tuhan bekerja, kita harus mulai bekerja.
PENERAPAN DALAM JEMAAT UNTUK MINGGU INI
Melalui Kitab Nehemia 2:11-20 dengan tema “Memulai Sebuah Pekerjaan dari Tuhan”, ada 3 pesan penting untuk kita semua pada Minggu ini yaitu:
“Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil. Kami, hamba-hamba-Nya, telah siap untuk membangun.” Nehemia 2: 20
MULAILAH DENGAN MELIHAT KEADAAN SECARA JUJUR .
Nehemia 2:11-16 Nehemia tidak langsung membangun ketika tiba di Yerusalem. Ia terlebih dahulu diam, melihat, mengamati dan memahami keadaan. Ia melihat sendiri tembok Yerusalem yang runtuh dan pintu-pintu gerbang yang terbakar.
Pesan untuk jemaat: Kalau kita mau memulai pekerjaan Tuhan, jangan mulai dengan ambisi, tetapi mulai dengan kepekaan terhadap keadaan. Kita perlu bertanya: Apa yang sedang terjadi dalam kehidupan jemaat? Apa yang sedang rusak dan perlu dipulihkan dalam gereja kita? Apa kebutuhan keluarga dan generasi muda? Apa yang Tuhan ingin kita kerjakan?
Pekerjaan Tuhan harus dimulai dengan mata yang terbuka dan hati yang peka.Jangan menutup mata terhadap masalah dan penolakan dalam jemaat,sebab Tuhan dapat memakai kita untuk menjadi bagian dari pemulihannya.
MULAILAH DENGAN VISI DAN KERJA BERSAMA.
Nehemia 2:17-18 Setelah melihat keadaan, Nehemia berkata: “Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem.” Perhatikan kata “kita.” Nehemia tidak mengatakan: “Kalian bangun.” Tetapi: “Mari, kita bangun.”
Ini adalah kepemimpinan yang membangun kesehatian, partisipasi dan tanggung jawab bersama. Nehemia juga menceritakan bagaimana tangan Allah yang murah menyertai dia. Akibatnya umat berkata: “Kami siap untuk membangun!”
Pesan untuk jemaat: Pekerjaan Tuhan tidak boleh menjadi pekerjaan satu orang. Pendeta, majelis, kaum bapak, kaum ibu, pemuda, perempuan, anak-anak dan seluruh warga jemaat harus mengambil bagian sesuai dengan karunia dan tanggung jawab masing-masing. Gereja akan kuat bukan karena satu orang hebat, tetapi karena umat Tuhan bekerja bersama dalam satu hati. “Pekerjaan Tuhan dimulai dari satu visi, tetapi diselesaikan melalui kebersamaan.”
MULAILAH DENGAN IMAN DAN JANGAN TAKUT TERHADAP TANTANGAN.
Nehemia 2:19-20 .Ketika Nehemia dan umat mulai bergerak, muncul Sanbalat, Tobia dan Gesyem yang: mengolok-olok; menghina; mempertanyakan; bahkan menuduh mereka memberontak. Tetapi Nehemia tidak mundur. Jawabannya sangat tegas: “Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil.” Inilah keyakinan Nehemia. Ia tidak mengatakan: “Kami pasti berhasil karena kami kuat.” Tetapi: “Allah yang membuat kami berhasil.” Pesan untuk jemaat: Ketika kita memulai pekerjaan yang benar dari Tuhan, jangan mengharapkan bahwa semua orang akan mendukung. Akan ada: kritik;keraguan; hambatan;salah pengertian; bahkan orang yang mencoba melemahkan semangat kita, serta menolak apa yang kita buat, Tetapi jangan berhenti hanya karena ada tantangan. Kalau kita yakin pekerjaan itu berasal dari Tuhan, kerjakan dengan iman, doa, ketekunan dan tanggung jawab maka pekerjaan itu berhasil,tetapi jika itu karena kehendak kita maka semuanya akan runtuh.
Amin.