Ckristian Abaa
(Mengenang Alm. Pnt. Karolina Awairaro, S.H., Sekretaris Urusan SDM, Kebudayaan dan Penelitian Jemaat GKI Bahtera Asyaman)

Pnt Karolina Awairaro (Depan) dalam suatu Ibadah PW GKI di Tanah Papua di Klasis GKI Keerom
Syalom, Bapak, Ibu, dan saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus.
Terutama keluarga Awairaro, Airori, Kurudu, Boinoi, Pom dan Srewen yang berduka yang amat kami kasihi dan hormati.
Hari ini hati kita tentu merasa berat dan duka kita mendalam. Kita berkumpul di sini untuk mengantarkan dan memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang kita kasihi, Ibu Penatua Karolina Awairaro, S.H., Sekretaris Urusan SDM, Kebudayaan dan Penelitian Jemaat GKI Bahtera Asyama Periode 2022-2027) yang meninggal pada 10 September 2026 dan akan kita makamkan hari ini (12/09) di Tempat Pemakaman Kampung Asyaman.
Sebagai seorang Penatua, Almarhum telah mendedikasikan hidupnya untuk melayani Tuhan, menjaga jemaat, dan menjadi teladan dalam iman. Kehilangan sosok seperti beliau tentu meninggalkan rasa sedih dan ruang kosong yang besar di tengah keluarga maupun gereja.
Namun, di tengah rasa duka yang jujur ini, Firman Tuhan hadir bukan untuk menghapus air mata kita secara paksa, melainkan untuk memberi kita pengharapan dan kekuatan baru.
Hari ini di mana kita akan memakamkannya, kita belajar bagaimana melihat kematian dari sudut pandang Kristus.
BERISTIRAHATLAN DARI JERIH PAYAH PELAYANAN (Wahyu 14:13)
Menjadi seorang Penatua bukanlah tugas yang ringan. Ada waktu, tenaga, pikiran, bahkan doa-doa dalam diam yang beliau persembahkan untuk jemaat dan keluarga. Terkadang ada rasa lelah yang tidak pernah dapat diucapkan.
Tetapi Firman Tuhan dalam Wahyu 14:13 menyampaikan kabar gembira bagi orang-orang yang setia:
“Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan… supaya mereka beristirahat dari jerih payah mereka.”
Kematian bagi seorang percaya—khususnya bagi hamba-Nya yang telah mengabdi—bukanlah sebuah kekalahan atau akhir yang menyedihkan. Kematian adalah saat di mana Tuhan menghentikan segala jerih payah, rasa sakit, dan kelelahan duniawi, lalu memanggil anak-Nya masuk ke dalam perhentian yang kekal. Beliau tidak lagi merasa sakit atau lelah, melainkan telah menerima perhentian yang damai di dalam pelukan Bapa.
KEMATIAN ADALAH KEUNTUNGAN, BUKAN KERUGIAN (Filipi 1:21)
Rasul Paulus pernah menuliskan kalimat yang sangat berani dalam Filipi 1:21:
“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
Mengapa kematian orang percaya disebut keuntungan?
- Semasa hidupnya, almarhum/ah Penatua telah memilih untuk hidup bagi Kristus—melayani keluarga, gereja, dan sesama. Sejak 1994 menjadi Ketua PAR GKI Efrat Tami sekaligus sebagai Guru Sekolah Minggu, lalu menjadi Ketua PW GKI Efrat Tami, kemudian mutasi jemaat ke Jemaat GKI Bahtera Asyaman. Setelah suaminya Rudolof Airori mengakhiri periode kemajelisannya (2017-2022), kemudian dilanjutkan oleh istrinya ini, Karolina Awairaro sebagai seorang Penatua.
- Dan ketika tiba waktunya untuk berpulang, beliau tidak kehilangan apa-apa. Sebaliknya, beliau memperoleh Kristus secara penuh, berhadapan muka dengan Bapa di sorga, dan menikmati janji keselamatan.
Bagi dunia, kematian adalah akhir dari segalanya. Namun bagi orang percaya yang hidup dalam Kristus, kematian adalah gerbang menuju kehidupan yang sejati.
YESUS ADALAH KEBANGKITAN DAN KEHIDUPAN (Yohanes 11:25-26)
Dalam Yohanes 11:25–26, Yesus menegaskan kembali dasar iman percaya kita saat Yesus menghibur Marta dan Maria:
“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.”
Di penghujung ayat tersebut, Yesus mengajukan satu pertanyaan kunci: “Percayakah engkau akan hal ini?”
Pertanyaan Yesus ini ditujukan kepada kita semua yang hadir di tempat ini hari ini.
- Kematian tubuh jasmani adalah kepastian bagi semua orang.
- Namun, Kristus telah mengalahkan maut melalui kebangkitan-Nya. Karena Yesus bangkit, maka kita yang percaya kepada-Nya juga memiliki jaminan bahwa kematian fisik bukanlah kata terakhir. Ada kebangkitan dan kehidupan kekal yang disediakan bagi setiap orang yang menaruh imannya kepada Kristus.
Kepada keluarga yang ditinggalkan: Janganlah berkecil hati atau merasa kehilangan arah. Warisan terindah yang ditinggalkan oleh almarhum/ah Penatua bukan sekadar kenangan manis, melainkan teladan iman dan kesetiaan beliau kepada Kristus.
Sebelum ia meninggal, dalam suatu pelayanan doa dari Majelis Jemaat, Ia meminta mereka menyanyikan Rohani 147:1-3 “KuasaMu Ya Pengasihan di dalam Yesus kusembah” Lagu ini menjadi puncak imannya menghadapi sakit kanker yang ia derita. Ia mengakui Tuhan yang ia sembah itu. Ia tidak kuatir lagi, bahkan dengan sukacita ia menyelam di laut yang mana Tuhan lah Allahnya. Walau sakit, ia setia sampai akhir hidupnya, dan ia memiliki pengharapan itu.
Kepada suami, terimakasih karena sudah kuat. Menjaga istri saat senang dan susah, bahkan saat sakitnya. Saat ia mengeluh dan menjerit menahan sakit dan sebagainya. Suami adalah orang yang patut diteladani. Ia telah menjalankan janji nikah kudusnya untuk setia dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam hidup dan mati, sampai maut memisahkan.
Kepada anak perempuan, ikuti teladan mamamu ini. Banyak hal yang telah diajarkannya melalui kata-kata nasihat dan ajaran, tetapi juga dalam diamnya ia telah mengajarkan kalian menjadi seorang perempuan yang kuat. Saya membacanya tulisan dari anak perempuannya bernama Lisa yang berkata: “rasanya nafas mau putus, dengar mama sudah tidak ada!” Kesedihan yang mendalam. Benar, bagaimana rumah tanpa mama? Dibutuhkan seorang ayah yang kuat yang teguh! Dan bapakmu telah menunjukan itu dalam kesetiaannya bersama mama.
Tetapi untuk setiap anak, ingat bahwa kematian dari mama itu lebih indah dihadapan Tuhan. Supaya kalian lebih lagi dewasa.
Kita semua akan mati, dan tidak dapat menghindarnya. Semua menunggu waktunya. Jadi berjagalah!
Pegang teguh iman itu. Tuhan Yesus yang selama ini disembah dan dilayani oleh almarhum/ah adalah Tuhan yang sama yang akan menopang, menghibur, dan mendampingi keluarga di masa-masa mendatang.
Dan bagi kita semua yang masih diberikan kesempatan untuk hidup: Mari kita merenungkan hidup kita masing-masing. Hidup ini singkat dan sementara. Sama seperti Penatua telah menyelesaikan pertandingan imannya dengan setia, mari kita juga memperkokoh iman percaya kita kepada Yesus Kristus. Hiduplah sedemikian rupa sehingga ketika saat kita tiba nanti, kita juga didapati setia dalam Tuhan.
Jangan berbuat dosa lagi dan waspadalah. Sebab umur ini singkat. Berbuat benar dan baik itu penting! Percaya pada Tuhan itu harus sungguh-sungguh. Dalam kata-kata dan tindakan.
Tugas kita bukan hanya menghibur keluarga yang mengalami kematian, tetapi kita pun harus membawa diri kita kepada Tuhan untuk dihibur dalam dunia yang penuh kegelisahan dan kekuatiran ini, termasuk untuk siap menghadapi kematian itu.
Selamat Jalan HambaNya, Pnt. Karolina Awairaro, Sekretaris Urusan Pengembangan SDM, Kebudayaan dan Penelitian Periode 2022-2027.
Doa
“Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah Kebangkitan dan Kehidupan. Kami mengucap syukur atas jalan hidup dan pelayanan yang telah diukir oleh hamba-Mu, Penatua Karolina Awairaro yang kami kasihi. Hiburkanlah keluarga yang ditinggalkan dengan kekuatan dan damai sejahtera dari Roh Kudus. Kokohkanlah iman percaya kami semua yang hadir di sini, agar kami selalu hidup berpengharapan hanya di dalam Engkau.Dan melayaniMu semakin sungguh-sungguh, setia dan rajin serta dengar-dengaran. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin
GALERY FOTO DUKA DAN KENANGAN












