MENYUSUR JALAN PEMBERDAYAAN ERA LAMA DI KAMPUNG MOLOF
Ckristian Abaa
“Tulisan ini merupakan kisah perjalanan visitasi saya di tahun 2012 ke Kampung Molof Distrik Senggi Kabupaten Keerom. Suatu Kampung di tengah Hutan Lebat dan Hutan Adat. Sebagai Sekretaris Komisi Pekabaran Injil Klasis GKI Keerom dan Ketua Majelis Jemaat GKI Ebenhaezer Senggi; yang diberikan tanggungjawab oleh BP Klasis GKI Keerom waktu itu.”
Perjalanan saya ke Yabanda (11/9/2012) dapat saya selesaikan selama satu hari. Sore harinya saya pun kembali ke Senggi, berkumpul bersama keluarga. Namun perjalanan visitasi itu, belumlah berakhir. Saya hanya terhenti sejenak di Senggi, dan tanggal 12 September. Saya kembali melakukan perjalanan, ketika matahari mulai mengeringkan embun di atas ilalang. Jalan Walley sungguh menyedihkan, seperti mau lewat malas, tidak dilewati sayang. Apalagi menapaki medan jalan berkayu di Molof, membutuhkan keseimbangan dan kecekatan.
Visitasi ke Walley dan Molof bertujuan melihat perkembangan jemaat-jemaat di sana! Sekaligus mendata warga jemaat yang belum memiliki data pencatatan sipil, diantaranya akta kelahiran dan nikah sipil. Sekian lama, hal ini tidak dipentingkan. Kebutuhan seperti ini hanya dilihat sebagai kebutuhan mereka yang kerja di pemerintah. Padahal keadaan berubah. Pemerintah membutuhkan data-data dari masyarakatnya, dan menuntut jemaat-jemaat untuk berlaku sebagai warga negara yang baik.
Sebelum ke kampung Molof biasanya kami dari gereja harus singgah di dusun Walley. Dalam persinggahan tersebut, saya menyempatkan diri bercerita dengan beberapa orang tua, tentang perkembangan kampung-kampung mereka dan sejarah masa lalu. Berikut percakapan saya dengan Didimus Yuur, Kepala Suku Terse (Molof), sehubungan dengan program pemberdayaan kampung di era sekarang dan di era lama.
Saya: kapan kampung Molof berdiri?
Didimus Yuur, “kampung Molof telah ada sejak tahun 1945, sejak jaman kemerdekaan. Kampung Molof melihat zaman di era Belanda. Orang tua kami biasa cerita tentang perjalanan dari Nyau PNG ke Yamas dan ke Soom serta ke Yafi. Lalu Jepang masuk di sepanjang sungai Pai (Keerom). Dalam pelarian, orang Jepang di kejar oleh orang Amerika dan Belanda. Orang Jepang banyak pengunakan perahu Sagu, waktu itu.”
Saya: sejak kapan orang Molof mengenal pemerintahan?
Didimus Yuur: “Dijaman Belanda telah ada gelar Korano atau yang sekarang kita sebut kepala kampung. Dahulu setiap suku punya Korano. Misalnya: Korano Farwasi Moses Yana, Korano Tawasi Yakob Plok, Korano Waykova Feleks Yuur, Korano Tiarsi Yehuda Tiar, sebelumnya Korano Kormesi. Dahulu Korano untuk semua suku di atas, adalah dari Terse. Di Terse waktu itu ada 3 kampung yang dibangun di pinggir-pinggi sungai Pai, ada kampung Murawa, Tawasi dan Soktawa. Juga ada Korano Kuapaki, kampungnya telah tidak ada lagi, sudah musnah akibat perang suku. Satu-satunya marga dari suku ini yang masih ada sampai saat ini di Molof, adalah marga Mailon. Lalu setelah masyarakat kurang, Belanda jadikan satu kampung saja.”
Saya: apa yang membuat orang Molof dan suku lainnya berkurang?
Didimus Yuur: “yang membuat kurang jumlah orang itu, mereka saling mengirim pembunuh, bakar goraka manusia untuk saling membunuh. Mereka yang punya keahlian ini pada waktu itu orang-orang dari Teofanma.”
Saya: kalau dahulu banyak orang yang mati? Tetapi saya jarang melihat kuburan di sini?
Didimus Yuur: “memang benar. Kuburan yang sekarang kita lihat ini orang Belanda yang ajar caranya. Lalu ketika Deda dan Okoka, masuk ke Molof baru ajar cara kubur di dalam tanah. Dahulu kami gantung anak kecil yang mati di pohon, atau sandar orang tua dewasa yang mati di pohon-pohon kayu besar.”
Saya: Molof saat ini masih sulit dijangkau, jalan masih sulit? Apakah tidak ada usaha untuk Molof berubah di kemudian hari?
Didimus Yuur: “Molof ini tertutup! Kampung-kampung di distrik Senggi mulai berubah, kami juga di Molof mau berubah!. Saya sebagai kepala suku berusaha untuk jalan masuk, tunggu pemerintah percuma saja. Maka saya sudah bilang perusahaan Dharma Timber, tetapi buat jalan baru ambil kayu. Jalan ada, supaya masyarakat jangan jalan-jalan kasih tinggal kampung, tinggal di trans Woslay atau di tempat lain. Hutan saya masih perawan. Buat Dharma Timber, jalan kasih bagus, baru aspal, kalau tidak bagus dan licin, jangan ambil kayu.”
Saya: tetapi apakah itu yang terbaik?
Didimus Yuur: “Sebenarnya saya tidak butuh perusahaan tetapi karena masyarakat saya ini, buat saya harus kasih ulayat saya. Perusahaan sebenarnya saya tidak punya. Perusahaan Dharma Timber juga sebenarnya sejak 2010 sudah survei di Molof.” terdengar sedih mengatakannya!
Saya: bagaimana dengan pemberdayaan di kampung Molof?
Didimus Yuur: “sebenarnya uang banyak masuk kampung Molof. Sejak zaman Celsius Watae, kami diberikan dana 150 juta, dan BK3 di zaman Yusuf Wally, sebanyak 1 milyar. Tetapi kampung belum berubah banyak. Sebenarnya kalau mau dibilang, pemberdayaan telah lama orang Molof kenal. Sejak zaman Belanda, sewaktu besstur Salmon, pemberdayaan kampung diberikan kepada beberapa Korano, antara lain Yuur, Tawasi dan Soktawa. Model pemberdayaan dahulu, adalah dengan membagi-bagikan Kapak Besi. Ketiga Korano tadi mendapat 2-3 tali Kapak Besi, sedangkan Korano Kormesi mendapatlkan 1 tali saja. Setiap saat di waktu pembagian terjadi hal tersebut berulang-ulang, dan membuat Korano Kormesi iri dan menyuruh orang Touwanma, membunuh besstur Salmon.”
Saya: itu berarti pemberdayaan pun dapat menimbulkan perpecahan! Lalu sejak kapan nama Molof digunakan secara resmi sebagai nama kampung?
Didimus Yuur: “Sebenarnya ada beberapa kata yang mendekati kata Molof. Ada cerita yang mengatakan bahwa nama Molof berasal dari bahasa Tabu, “Moloaf” artinya kemana. Molof bukan bahasa Poulle. Ada juga yang menyebutkan bahwa Molof berasal dari kata “Mouwi” untuk menyebutkan orang tua yang memakan Kodok Merah, yang dahulu banyak di Molof. Di masa besstur Yakob Tabu, barulah nama Molof digunakan, yaitu sejak orang mulai berkurang, dan Belanda kemudian menjadikan ketiga kampung Farwasi, Tawasi dan Terse, menjadi satu kampung di wilayah ulayat Terse, yang sekarang di sebut Molof. Saat kampung Terse di buka, waktu itu Pdt. Quiko mengunjungi Molof. Waktu itu Sungai Pai banyak sekali buaya. Orang yang menyeberang sungai tersebut akan dibunuh dan dimakan buaya. Pdt. Quiko datang dengan seorang tenaga pendidik, Guru Yumbong yang adalah orang Ubruk. Sejak itulah kami mulai memiliki rumah-rumah dari kayu dan beratapkan seng.
Pemberdayaan adalah sisi lain dari kehidupan manusia yang tidak bisa diabaikan. Sekecil apapun usaha yang dilakukan, pemberdayaan tentu memberikan dampak perubahan untuk suatu kelompok masyarakat, cepat atau lambat. Yang terpenting dari pemberdayaan adalah proses yang dijalani oleh masyarakat itu sendiri. Semoga! (*2012)
Gallery Foto Aktifitas Kampung Molof






Tampak Kampung Molof dan Tampilan Seni Budaya dan Alat Musik Tradisional sebagai Identitas Natural Warisan Leluhur serta Seorang Laki-Laki Muda yang sedang mengolah pati sagu (Foto: Ayub dan Herick Yuur, Facebook)
Video Inspiration “Ise Kune Flale Tuljaf”
Lagu Berbahasa Poule Molof dari Anak Muda Kreatif Ciptaan Wem Korme