MENGENALI STRES DAN MENEMUKAN KEKUATAN IMAN DALAM MASA SULIT
Deby Wattimena
(Penulis adalah Pendeta di Klasis GKI Keerom di Jemaat GKI Hanna LPP Kelas III Jayapura Bate)
Pertanyaan yang singkat, tetapi jawaban atas pertanyaan ini barangkali membutuhkan waktu yang tidak singkat. Seorang pemuda berusia kira-kira 27 tahun, sedang berdiri di depan sebuah gedung kantor sambil terus menatap kendaraan yang lalu-lalang. Waktu masih menunjukkan pukul sebelas siang kala itu. Ia pun masih berpakaian rapih, kemeja lengan panjang berwarna biru. Tetapi mengapa ia hanya berdiri di luar kantor ? Mengapa ia tidak masuk ke dalam dan bekerja ? ”Saya stres sekali”, katanya. Lalu ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menarik nafas panjang. Kalau pertanyaan ”mengapa anda stres” diajukan kepadanya, maka mungkin butuh waktu tidak sedikit untuk mendegarkan keluh-kesah si pemuda.
Manusia dalam hidupnya tidak dapat menghindar dari stres. Stres berhubungan dengan emosional seseorang yang sedang berada pada suatu tekanan atau ketegangan. Stres karena tekanan ekonomi, tekanan sosial budaya, tekanan politik, dan sebagainya. Stres karena masalah bumbu di dapur habis, sampai stres yang diakibatkan karena lawan politik menyerang tak habis-habisnya. Sedang ramai sekarang dibicarakan bahwa pasca pemilihan umum baik pemilu legislatif maupun pemilu presiden banyak orang yang stres. Banyak orang yang putus asa kemudian berkembang menjadi keputusasaan yang berkepanjangan.
Stres adalah suatu kondisi atau keadaan tubuh yang terganggu karena tekanan psikologis. Biasanya stres dikaitkan bukan karena penyakit fisik tetapi lebih mengenai kejiwaan. Akan tetapi karena pengaruh stres tersebut maka penyakit fisik bisa muncul akibat lemahnya dan rendahnya daya tahan tubuh pada saat tersebut. Banyak hal yang bisa memicu stres muncul seperti rasa khawatir, perasaan kesal, kecapekan, frustasi, perasaan tertekan, kesedihan, pekerjaan yang berlebihan, Pre Menstrual Syndrome (PMS), terlalu fokus pada suatu hal, perasaan bingung, berdukacita dan juga rasa takut (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).

Stres itu dapat disebabkan oleh beban kerja yang berlebihan dan kemampuan seseorang yang rendah dalam mengelola konflik internal dalam dirinya.
Penyebab Stres
Penyebab stres bermacam-macam. Tergantung dari faktor pemicunya. Ada stres yang disebabkan karena kegagalan terhadap pencapaian tujuan-tujuan tertentu, tidak memiliki kesempatan kerja, kesehatan tubuh yang selalu bermasalah, beban ekonomi dalam keluarga, gagal menjadi caleg, tidak dapat membayar utang dengan bunga yang besar dan kondisi politik yang tidak menentu.
Selain itu hal-hal yang positif dalam hidup banyak pula menyebabkan manusia menjadi stres. Berkeluarga adalah baik sebagai tanggungjawab penciptaan dan meneruskan turunan. Tetapi bagi kepala keluarga yang tidak memiliki pekerjaan tetap, maka itu menimbulkan masalah. Sekolah itu baik untuk masa depan. Tetapi banyak pula orang yang bersekolah gagal sebab tidak mampu mengikuti persaingan studi. Apalagi dengan biaya pendidikan yang tinggi.
Dampak Stres
Menurut penelitian, sebagaimana termuat dalam www.wiwityudiantara.co,cc., bahwa secara biologis, bila ada sesuatu yang mengancam tubuh, maka kelenjar pituitary yang terletak di bawah otak mengirimkan “alarm” dan hormon ke kelenjar endokrin, yang kemudian mengalirkan hormon adrenalin dan hidrokortison ke dalam darah. Hasilnya, tubuh menjadi siap untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang muncul. Memang, dalam kondisi stres tubuh langsung menyesuaikan diri terhadap tekanan yang datang dengan mengubah sistem di dalam tubuh untuk mengatasinya. Inilah sebabnya banyak dikatakan bahwa stres yang melebihi daya tahan atau kemampuan penyesuaian tubuh akan menyebabkan gangguan baik fisik maupun psikis.
Penelitian di AS menemukan, enam penyebab utama kematian yang erat hubungannya dengan stres adalah penyakit jantung koroner, kanker, paru-paru, kecelakaan, pengerasan hati dan bunuh diri. Pengalaman bangsa Indonesia setelah berakhirnya masa pemilihan legislatif pun dapat kita saksikan, bahwa banyak caleg yang stres, terserang stroke, gantung diri, minum obat over dosis, menarik kembali bantuan yang diberikannya kepada konstituennya, melakukan pemukulan bahkan tidak mengantikan pinjamam uang yang dipakai untuk kepentingan kampaye. Stres juga merubah kebiasaan seseorang yang tadinya aktif dan supel, kemudian mulai suka berdiam diri, labil kejiwaan dan pasif terhadap segala sesuatu. Bahkan dapat semakin buruk dengan mulai berbicara seorang diri.
Stres dapat kita sikapi dengan baik. Sebab, sebenarnya stres sangatlah wajar dialami oleh manusia
Stres tidak selalu cenderung untuk dianggap negatif, buruk dan memalukan. Stres juga dapat berdampak positif bagi orang yang mengalaminya. Tergantung bagaimana kita menghadapi stres itu. Stres dapat mendorong seseorang untuk memperoleh kekuatan dan mengubahnya menjadi keuntungan dan keberhasilan. Stres adalah proses adaptasi seseorang terhadap tantangan dan masalah. Akibatnya orang stres mampu melewatiya dan mendapat jalan keluar. Oleh sebab itu, hal yang positif dalam hidup dapat pula menyebabkan stres. Satu contoh lagi, seorang calon anggota DPRD mengerti benar bahwa keterlibatannya dalam pembangunan harus dimulai dari legislatif. Tetapi kemudian ketika perolehan suaranya tidak mencapai target, maka ia stres.
Mengapa stres wajar? Kewajaran stres terletak dari cara kita mengatasinya. Kesiapan psykologis menjadi penentu keberhasilan itu. Tubuh manusia hanya menerima dampak dari keadaan stres itu. Jauh lebih penting jiwa kitalah yang harus siap menghadapi perubahan-perubahan di sekitar kita. Untuk mengatasi kegalauan itu, orang dapat saja berteriak sekeras-kerasnya melawan deburan ombak dipinggir pantai, minum kopi nescafe sambil menikmati aromanya, makan siang di pinggir pantai sambil melihat pemandangan teluk Imbilt, minum air kelapa di Skylen sambil memandang teluk Yotefa, berolahraga, membaca buku, main gitar sambil bernyanyi dan sebagainya. Mengatasi stres dapat kita lakukan dengan cara kita sendiri. Tidak ada yang baku dan menjadi obat mujarab.
Obat mujarab stres, hanyalah sejauh mana kita berpikir positiv. Jangan cenderung mengikuti kata hati yang negatif dan berbahaya. Lebih baik hidup dengan santai, bebas dan dinamis. Selalu berpikir positif untuk orang lain disekitar kita jauh lebih menolong kesehatan jiwa kita. Demikian terhadap diri sendiri. Jangan selalu mempersalahkan kegagalan yang selalu saya hadapi. Tetapi lebih baik adalah ubahlah kegagalan dan masalah itu menjadi berkat. Selalu saja ada manfaatnya kegagalan yang kita hadapi. Kegagalan membuat hidup di dunia ini lebih bermakna.
Bagi orang Kristen, stres dapat saja kita hubungan dengan kondisi keberdosaan kita. Tetapi obatnya adalah datang dengan khusyuk, berdoa, bermeditasi, memuji Tuhan, membaca Firman, bersekutu dengan orang lain, dan menjalankan Ibadah. Komunikasi dengan Tuhan dan sesama menjadi satu-satunya bagi kita memperoleh ketenangan jiwa.